![]() |
| Foto: Ilustrasi Harapan Anak Kepulauan Buton Selatan Pada Sekolah Rakyat. |
Divisi88News.Com, Jakarta - Pagi itu, langkah-langkah dari sebuah daerah kepulauan tiba di pusat pemerintahan. Jarak ribuan kilometer seolah diringkas menjadi satu tujuan memperjuangkan masa depan anak-anak yang selama ini belajar dalam keterbatasan. Dari ruang pertemuan di Jakarta, senin (23/02/2026), harapan itu disuarakan oleh Bupati Adios, didampingi Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Buton Selatan, Karlina Sukarman, dan beberapa Dinas Terkait dalam audiensi bersama Kementerian Sosial.
Yang mereka bawa bukan hanya dokumen proposal, ada cerita tentang anak-anak yang harus menyeberang laut untuk menempuh pendidikan, tentang keluarga yang menggantungkan hidup dari hasil tangkapan harian, dan tentang pilihan-pilihan sulit yang sering kali membuat pendidikan menjadi nomor sekian.
![]() |
| Salah Satu Sekolah Di Desa Hendra, Kecamatan Sampolawa yang Berdindingkan Lembaran Kayu Lapuk, (Foto: Hendea Putra). |
Didaerah seperti Kabupaten Buton Selatan, sekolah bukan sekadar gedung. Ia adalah harapan yang kadang terasa jauh, misalnya di Desa Hendea ada Sekolah Yang berdindingkan Lembaran Kayu Lapuk, Lantai Beralaskan Tanah, dan masih ada lagi beberapa Daerah yang masih tertinggal hingga kekurangan Tenaga Pendidik. Karena itu gagasan menghadirkan Sekolah Rakyat menjadi sesuatu yang lebih besar dari program pembangunan biasa, ia adalah jembatan untuk keluar dari lingkaran kemiskinan yang berlangsung turun-temurun.
![]() |
| Bupati Buton Selatan, Muhamad Adios Saa Audiens Bersama Wakil Menteri Sosial, Senin (23/02/2026). |
Pendidikan sebagai Jalan Perubahan
Bupati Busel, Muhamad Adios menyampaikan bahwa pendidikan adalah satu-satunya cara paling efektif untuk mengubah nasib masyarakat dalam jangka panjang. Bantuan sosial memang penting, tetapi tanpa akses pendidikan yang layak, perubahan tidak akan pernah benar-benar terjadi.
Sekolah Rakyat dirancang sebagai ruang yang terbuka bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu untuk mendapatkan pendidikan gratis dan berkualitas. Bukan hanya kurikulum akademik, tetapi juga pembinaan karakter, pelatihan keterampilan, hingga penguatan nilai kebersamaan yang selama ini menjadi kekuatan masyarakat kepulauan.
Di dalam konsep itu, sekolah diharapkan menjadi pusat tumbuhnya generasi baru anak-anak yang tidak lagi dibatasi oleh kondisi ekonomi orang tua mereka.
![]() |
| Ketua DPC PDI Perjuangan Busel, Karlina Sukarman. |
Begitu pula dengan Kartini Busel, Ketua DPC PDI Perjuangan Busel, Karlina Sukarman menyebut perjuangan ini sebagai amanah yang lahir dari suara masyarakat. Banyak orang tua di desa-desa berharap anak mereka memiliki kesempatan belajar lebih tinggi tanpa harus meninggalkan kampung halaman terlalu dini.
“Sekolah ini nantinya harus menjadi milik masyarakat. Tempat anak-anak belajar, berkembang, dan percaya bahwa mereka bisa meraih masa depan,” ujarnya.
Menyatukan Langkah Pusat dan Daerah
Upaya tersebut mendapat perhatian serius dari pemerintah pusat. Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono menjelaskan bahwa program Sekolah Rakyat merupakan bagian dari kebijakan nasional yang diarahkan langsung oleh Presiden Prabowo Subianto untuk memutus transmisi kemiskinan melalui jalur pendidikan.
Namun, membangun sekolah dengan skema ini memerlukan kesiapan yang matang. Pemerintah daerah harus memastikan ketersediaan lahan yang memadai, berstatus jelas, dan bebas dari sengketa. Selain itu, seluruh dokumen administratif dan kesiapan teknis harus dipenuhi agar pembangunan tidak menimbulkan persoalan di kemudian hari.
![]() |
| Bupati Buton Selatan, Muhamad Adios Didampingi Ketua DPC PDI Perjuangan Busel, Karlina Sukarman Saat Menyerahkan Proposal Sekolah Rakyat kepada Wakil Menteri Sosial. |
Verifikasi teknis nantinya juga melibatkan Kementerian Pekerjaan Umum, memastikan lokasi benar-benar siap untuk dibangun menjadi kawasan pendidikan terpadu.
Pesan yang disampaikan sederhana namun tegas "komitmen daerah akan menentukan kecepatan realisasi".
Sekolah sebagai Pusat Pemberdayaan
Bagi Buton Selatan, Sekolah Rakyat tidak hanya diproyeksikan menjadi tempat belajar formal. Ia diharapkan tumbuh sebagai pusat pemberdayaan masyarakat.
Di sana, anak-anak dapat memperoleh keterampilan praktis yang relevan dengan kehidupan lokal, mulai dari penguatan literasi dan numerasi, hingga pengembangan kemampuan yang dapat menunjang potensi wilayah kepulauan. Dengan begitu, pendidikan tidak menjauhkan generasi muda dari daerahnya, tetapi justru memperkuat kontribusi mereka bagi pembangunan lokal.
Sekolah ini juga diharapkan menjadi ruang aman bagi anak-anak untuk membangun mimpi. Tempat di mana latar belakang ekonomi tidak lagi menjadi penghalang untuk bercita-cita menjadi guru, tenaga kesehatan, wirausaha, atau profesi lain yang sebelumnya terasa mustahil.
Menyalakan Harapan dari Pinggiran Negeri
Pembangunan sering kali berpusat di kota-kota besar, namun inisiatif ini mencoba membalik arah perhatian menyalakan cahaya dari wilayah yang selama ini berada di pinggiran.
Bagi masyarakat Buton Selatan, keberadaan Sekolah Rakyat kelak akan menjadi simbol bahwa negara hadir hingga ke pulau-pulau. Bahwa anak-anak nelayan dan petani memiliki hak yang sama untuk memperoleh pendidikan bermutu.
Perjalanan menuju realisasi memang masih panjang. Tahapan administrasi, kesiapan lahan, hingga proses teknis harus dilalui dengan cermat. Tetapi optimisme sudah tumbuh.
Dari sebuah audiensi, lahir sebuah langkah. Dari sebuah proposal, tumbuh sebuah harapan.
Dan bagi Buton Selatan, harapan itu sederhana namun mendasar, memastikan generasi berikutnya tidak lagi mewarisi keterbatasan, melainkan kesempatan.





0Komentar